"ASAL MULA PAHALA IBADAH 1000 BULAN LAILATUL QADAR"

"ASAL MULA PAHALA IBADAH 1000 BULAN LAILATUL QADAR"
Syam'un Al-Ghazi adalah seorang yang ahli ibadah, dimana selama 1000 bulan tak pernah lepas dari sholat malam dan siangnya selalu berpuasa. Namun pada suatu saat, ia justru dikhianati istrinya sendiri dan pada akhirnya istrinya mendapat balasan yang setimpal dari Allah SWT.

Kisah Asal Mula Pahala Ibadah 1000 Bulan Lailatul Qadar -----------------------------------------------------------------
Syam'un ini seorang muslim yang sangat disegani oleh kaum kafir Quraisy. Sudah tak terhitung lagi orang kafir yang mati ditangannya. Selain itu, Syam'un juga ahli ibadah dan tercatat ia sanggup beribadah selama 1000 bulan dengan shalat malam dan siangnya berpuasa. Akan tetapi, apa yang terjadi... Ternyata dibalik keistimewaannya itu justru Syam'un mempunyai istri yang kurang baik. Akibatnya si istri tersebut diperdaya oleh kaum kafir Quraisy untuk membunuh suaminya sendiri. Pada awalnya sih, si istri menolak dengan mentah-mentah ajakan kafir quraisy, namun karena ada iming-iming harta benda yang banyak, si istri akhirnya mau melakukan kejahatan itu. Kafir Quraisy berkata, "Kami akan memberimu seutas tali kuat, ikatlah tangan dan kakinya ketika dia tidur, nanti setelah itu kamilah yang bertindak untuk membunuhnya."

Pada Hari Pertama
----------------------
Pada hari pertama, istri Syam'un gagal karena ketiduran yang disebabkan karena suaminya terlalu lama mengerjakan shalat malam. Lama waktunya itu sehingga membuat istri Syam'un tak kuasa menahan kantuk yang amat sangat. Memang Syam'un tidurnya hanya sedikit saja dalam semalam. Dimana malam-malamnya hanya dipergunakan untuk beribadah kepada Allah SWT. Keesokan harinya, istri Syam'un lapor kepada kaum kafir quraisy bahwa dia belum berhasil mengikat tangan dan kaki suaminya. Mereka tidak mempermasalahkan hal ini.

 Pada Hari Kedua
-------------------
Istri Syam'un berhasil mengikat suaminya ketika tidur dengan seutas tali yang kuat. Tatkala Syam'un bangun dan ingin beribadah kepada Allah SWT, ia terkejut karena kedua kakinya terikat. "Wahai istriku, siapakah yang mengikatku dengan tali ini?" tanya Syam'un kepada istrinya. "Aku yang mengikat, hanya sekedar mengujimu sampai sejauh mana kekuatanmu," ujar istrinya. Kemudian Syam'un segera memotong tali tersebut lalu bergegas menuju tempat peribadatannya. Maka gagallah rencana pembunuhan pada hari kedua itu. Namun, setelah itu, musuh-musuh kafir datang lagi dengan membawa rantai dan istri Syam'um siap mengikat suaminya lagi pada keesokan malamnya.

Pada Hari Ketiga
-------------------
Istri Syam'un di hari ketiga itu berhasil lagi mengikat suaminya dengan rantai yang diberikan oleh orang-orang kafir quraisy. "Wahai istriku, siapakah yang mengikatku kali ini?" tanya Syam'un dengan nada agak marah ketika bangun dari tidur. "Aku yang mengikatnya, sekedar untuk mengujimu," jawab istrinya.

Rahasia Kekuatan Syam'un
-------------------------------
Lalu Syam'un segera menarik tangannya dan memotong rantai itu. Kemudian istrinya pun segera membujuk suaminya agar mau menceritakan rahasia kekuatan tubuh yang dimiliki suaminya. Akhirnya Syam'un bercerita juga, jika sebenarnya ia adalah seorang wali dari sekian banyak WALIYULLAH yang hidup di dunia ini. "Wahai istriku, ketahuilah bahwa tidak ada seorang pun yang mempu mengalahkanku dalam perkara dunia kecuali rambutku ini," jelas Syam'un. Syam'un memang memiliki rambut yang panjang dan konon panjangnya digambarkan bahwa ujung rambutnya akan menyentuh tanah saat Syam'un berdiri. Karena sudah mengetahui kelemahan suaminya, akhirnya mulailah istrinya mengikat tangan Syam'un dengan 4 helai rambutnya dan mengikat pula kakinya dengan 4 helai rambut milik Syam'un, sementara ia tetap dalam tidurnya. Setelah bangun, Syam'un bertanya, "Wahai istriku, siapakah yang mengikatku ini?" "Aku, untuk mengujimu," jawab istrinya yang mulai ketakutan. Setelah itu Syam'un berusaha dengan segenap tenaga untuk melepaskan ikatan itu, namun dia tidak berdaya untuk memotongnya. Si istri langsung saja memberitahukan kepada kaum kafir quraisy tentang hal ini. Mereka datang dan membawa Syam'un ke tempat pembantaian. Ia diikat pada tiang, dan mulailah mereka menganiaya Syam'un. Astaghfirullah... Astaghfirullah sungguh biadab orang kafir quraisy. Kedua telinga beliau ra dipotong-potong, selanjutnya juga mata dicukil, bibir, tangan dan kakinya. Waliyullah yang satu ini tidak nampak kekesalan, bahwa wajahnya berseir-seri meski anggota tubuhnya dipotong-potong oleh orang-orang kafir quraisy.

Pertolongan Allah SWT Datang
-----------------------------------
Akhirnya pertolongan Allah SWT pun datang juga. Allah SWT memberi kekuatan kepada Syam'un yang kekuatannya tidak bisa dibayangkan dan melebihi kekuatan dari rambutnya sendiri. Syam'un hanya beringsut sedikit saja, putuslah tali rambut itu bahkan tiangnya juga ikut roboh dan hancur kecil-kecil. Bukan itu saja, rumah yang dijadikan tempat pembantaian itu juga turut hancur dan atapnya menimpa orang-orang kafir quraisy dan semuanya mati. Begitu juga dengan istrinya, juga ikut tertimpa reruntuhan atap rumah. Begitulah sahabat, sekuat apapun seseorang, hanya Allah SWT sajalah yang tetap Terkuat sejagat raya. Itulah Sahabat, kisah yang dikisahkan sendiri oleh Rasulullah SAW lewat sahabatnya kepada sahabat-sahabatnya. "Ya Rasulullah...tahukah pahala yang telah dicapai oleh Syam'un?" tanya sahabat kepada Nabi Muhammad SAW. "Tidak," jawab Rasulullah SAW. Lalu Allah SWT menyuruh Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad dan menurunkan Surat Al Qadr. "Hai Muhammad, Allah memberi Lailatul Qadar kepadamu dan umatmu, ibadah pada malam itu lebih utama daripada ibadah 1000 bulan," ujar Malaikat Jibril. Surat Al-Qadr ayat 1-5: Allah SWT berfirman,

 إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ ١ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ ٢ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ ٣ تَنَزَّلُ الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ ٤ سَلامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ ٥ 

Artinya: 1. Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan[a]. 2. dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan itu? 3. malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. 4. pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. 5. malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar.
Penjelasan ayat: [a] Malam kemuliaan dikenal dalam bahasa Indonesia dengan malam Lailatul Qadr Yaitu suatu malam yang penuh kemuliaan, kebesaran, karena pada malam itu permulaan turunnya Al Qur'an. Mendengar berita itu, Rasulullah SAW menyuruh sahabat-sahabatnya untuk berburu malam Lailatul Qadar agar mendapatkan pahala seperti yang Allah AWT berikan kepada Waliyullah Syam'un Al-Ghazi. Subhanallah... semoga bermanfaat, dan menjadi renungan bagi kita semua.

"Sholawat 100 kali, Mimpi Nabi S.A.W"

"Sholawat 100 kali, Mimpi Nabi SAW" Pada suatu malam ada seorang lelaki bermimpi melihat Rosulullah SAW, tapi beliau tidak menoleh sedikitpun pada pemuda itu. Lantas ia bertanya, "Wahai Rosulullah, apakah engkau marah pada ku?" Nabi menjawab, "tidak." kemudian dia melanjutkan pertanyaannya, "kenapa engkau tidak menoleh kepadaku?" Nabi menjawab, "karena aku tidak mengenalmu." "bagaimana engkau tidak mengenalku, aku adalah umat Mu, padahal para ulama' mengatakan bahwa enngkau mengenali umatmu melebihi rasa cinta seorang ibu pada anaknya," kata pemuda tadi. "Mereka benar, tapi engkau tidak mengingatku dengan bersholawat kepadaku. sesungguhnya aku mengenali umatku dengan kadar sholawat mereka kepadaku," jelas Nabi. Lantas pemuda itu terbangun dan teringat kepada Nabi, kemudian ia mewajibkan kepada dirinya untuk selalu bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW 100 kali dalam sehari, sehingga suatu hari ia bermimpi Rosulullah SAW berkata kepadanya, "Sekarang aku mengenalmu dan akan memberi syafa'at kepadamu." Disarikan dari: Mukasyafatul-Qulub, al-Ghazali.

"Mbah Kholil, Orang Arab, dan Macan Tutul"

"Mbah Kholil, Orang Arab, dan Macan Tutul" Alkisah, seseorang berkebangsaan Arab berkunjung ke Pesantren Kedemangan, Bangkalan, Jawa Timur. Masyarakat Madura menyebutnya habib. Kala itu, Syaikhona KH Muhammad Kholil sedang memimpin jamaah sembahyang maghrib bersama para santrinya. Usai menunaikan shalat, Mbah Kholil pun menemui para tamunya, termasuk orang Arab ini. Dalam pembicaraan, tamu barunya ini menyampaikan sebuah teguran, “Tuan, bacaan al-Fatihah Antum (Anda) kurang fasih.” Rupanya, sebagai orang Arab, ia merasa berwenang mengoreksi bacaan shalat Mbah Kholil. Setelah berbasa-basi sejenak, Mbah Kholil mempersilakan tamu Arab itu mengambil wudhu untuk melaksanakan sembahyang maghrib. “Silakan ambil wudhu di sana,” ucapnya sambil menunjuk arah tempat wudhu di sebelah masjid. Baru saja selesai wudhu, si orang Arab tiba-tiba dikejutkan dengan munculnya seekor macan tutul. Dengan bahasa Arab yang fasih, ia berteriak dengan maksud mengusir si macan. Kefasihan bahasa Arabnya tak memberi pengaruh apa-apa. Binatang buas itu justru kian mendekat. Mendengar keributan di area tempat wudhu, Mbah Kholil datang menghampiri. Mbah Kholil paham, macan tutul itu lah sumber kegaduhan. Kiai keramat ini pun melontarkan sepatah dua patah kata kepada macan. Meski tak sefasih tamu Arabnya, anehnya, sang macan langsung bergegas pergi. Orang Arab itu akhirnya mafhum, kiai penghafal al-Qur’an yang menguasai qiraat sab’ah (tujuh cara membaca al-Qur’an) ini sedang memberi pelajaran berharga untuk dirinya. Nilai ungkapan seseorang bukan terletak sebatas pada kefasihan kata-kata, melainkan sejauh mana penghayatan atas maknanya.

"Ketika Umar Akan Penggal Kepala Orang"

"Ketika Umar Akan Penggal Kepala Orang" Nasib malang menimpa salah seorang musyrikin Quraisy, Hakam bin Kaisan. Kekalahan kelompoknya dalam perang Badar mengubah jalan hidupnya sebagai tawanan dan hampir saja kehilangan kepala. Umar bin Khattab beriniat akan memenggal kepala Hakam lantaran tak terlalu sabar menunggu keinsafan orang Quraisy tersebut atas ajaran Islam. Meski sebagai tawanan, Hakam tetap tak beranjak dari ajaran jahiliyahnya. ”Sebaiknya lepaskan saja ia. Kita serahkan saja kepada Rasulullah,” usul bawahan Umar, Miqdad bin Amr. Mereka akhirnya sepakat membawa Hakam menghadap Rasulullah SAW. Dalam pertemuan itu, Hakam menerima banyak pelajaran dari Rasulullah. ”Ya Rasulallah, untuk apa Engkau mendakwahinya? Demi Allah, orang ini tidak akan masuk Islam sampai akhir abad. Biarkan aku memenggal kepalanya supaya ia kembali ke perut neraka Hawiyah,” protes Umar. Rasulullah tak menoleh sedikit pun kepada Umar. Mungkin mengabaikannya. Tapi, Hakam akhirnya benar-benar jatuh hati dengan Islam. Menyaksikan kebijaksanaan Nabi dan proses Hakam memeluk Islam, Umar pun menyesali perbuatannya. ”Bagaimana aku sampai membantah Nabi SAW untuk perkara yang sesungguhnya beliau lebih mengetahui?” katanya. Diriwayatkan, Hakam pernah bertanya kepada Rasulullah, ”Apa itu Islam?” ”Engkau menyembah hanya kepada Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya dan Engkau bersaksi bahwa Muhammad itu hamba dan utusan-Nya,” jawab Rasulullah. ”Sungguh aku telah memeluk agama Islam,” jawab Hakam. Nabi segera menoleh kepada para sahabatnya. ”Seandainya saja aku memenuhi keinginan kalian (untuk membunuh Hakam) beberapa saat yang lalu, pasti ia sudah masuk neraka.” Dalam perkembangannya, Hakam berubah menjadi muslim yang sangat saleh dan taat. Bahkan Hakam turut berjuang di medan perang bersama Nabi hingga ia wafat sebagai syahid di Bi’r Ma’unah. Bi’r Ma’unah adalah tempat syahidnya 70 sahabat pada bulan Shafar tahun ke-4 Hijriyah. Saat itu, Rasulullah mengungkapkan rasa dukanya yang mendalam atas peristiwa memilukan yang menimpa para sahabatnya selama beberapa hari dengan qunut nazilah.

"Nabi Daud as Dan Seekor Ulat"

"Nabi Daud as Dan Seekor Ulat" Suatu hari, ketika Nabi daud menikmati puasanya, beliau duduk sambil membaca kitab zabur. Tak lama kemudian, Nabi Daud melihat seekor ulat merah di dekatnya. Beliau bergumam dalam hatinya, "Apa yang di inginkan Allah dengan ulat ini?" Dengan izin Allah, ulat itu berbicara menjawab isi hati nabi daud, "Wahai Nabi Allah, jika siang datang saya di ilhami Allah untuk selalu berdzikir seribu kali setiap hari. Dan ketika malam pun tiba, Allah selalu mengilhamiku untuk selalu bersholawat kepada Nabi Muhammad seribu setiap malam. Sedangkan engkau, apa yang engkau katakan sehingga aku bisa mengambil faidah darimu?" Nabi Daud menyesal karena telah memandang remeh seekor ulat. Beliaupun beristighfar karena takut kepada Allah. Disadur dari: Mukasyafatul-Qulub.

"Kisah Ayah Imam Syafi'i Mencari Rizki yang Halal"

"Kisah Ayah Imam Syafi'i Mencari Rizki yang Halal" Seorang pemuda bernama Idris berjalan menyusuri sungai. Tiba-tiba ia melihat buah delima yang hanyut terbawa air. Ia ambil buah itu dan tanpa pikir panjang langsung memakannya. Ketika Idris sudah menghabiskan setengah buah delima itu, baru terpikir olehnya, apakah yang dimakannya itu halal? Buah delima yang dimakan itu bukan miliknya. Idris berhenti makan. Ia kemudian berjalan ke arah yang berlawanan dengan aliran sungai, mencari dimana ada pohon delima. Sampailah ia di bawah pohon delima yang lebat buahnya, persis di pinggir sungai. Dia yakin, buah yang dimakannya jatuh dari pohon ini. Idris lantas mencari tahu siapa pemilik pohon delima itu, dan bertemulah dia dengan sang pemilik, seorang lelaki setengah baya. “Saya telah memakan buah delima anda. Apakah ini halal buat saya? Apakah anda mengihlaskannya?” kata Idris. Orang tua itu, terdiam sebentar, lalu menatap tajam. “Tidak bisa semudah itu. Kamu harus bekerja menjaga dan membersihkan kebun saya selama sebulan tanpa gaji,” katanya kepada Idris. Demi memelihara perutnya dari makanan yang tidak halal, Idris pun langsung menyanggupinya. Sebulan berlalu begitu saja. Idris kemudian menemui pemilik kebun. “Tuan, saya sudah menjaga dan membersihkan kebun anda selama sebulan. Apakah tuan sudah menghalalkan delima yang sudah saya makan?” “Tidak bisa, ada satu syarat lagi. Kamu harus menikahi putri saya; Seorang gadis buta, tuli, bisu dan lumpuh.” Idris terdiam. Tapi dia harus memenuhi persyaratan itu. Idris pun dinikahkan dengan gadis yang disebutkan. Pemilik menikahkan sendiri anak gadisnya dengan disaksikan beberapa orang, tanpa perantara penghulu. Setelah akad nikah berlangsung, tuan pemilik kebun memerintahkan Idris menemui putrinya di kamarnya. Ternyata, bukan gadis buta, tulis, bisu dan lumpuh yang ditemui, namun seorang gadis cantik yang nyaris sempurna. Namanya Ruqoyyah. Sang pemilik kebun tidak rela melepas Idris begitu saja; Seorang pemuda yang jujur dan menjaga diri dari makanan yang tidak halal. Ia ambil Idris sebagai menantu, yang kelak memberinya cucu bernama Syafi’i, seorang ulama besar, guru dan panutan bagi jutaan kaum muslimin di dunia.

"Segelas Air Pemadam Neraka"

"Segelas Air Pemadam Neraka" Konon, ketika hari kiamat tiba, ada segumpal api sebesar gunung keluar dari neraka jahannam yang memburu umat Muhammad. Nabipun berusaha menolaknya, namun beliu tidak kuasa. Saat keada'an genting itulah Malaikat Jibril as datang membawa segelas air lalu di berikan kepada nabi Muhammad SAW. "Ya Rosulallah, ambillah air ini dan percikkan pada api itu." kata Jibril. Saat beliau memercikannya, ternyata api itu padam seketika dan nabipun keheranan. "Wahai Jibril, air apa ini? kenapa bisa secepat itu memadamkan api?" Jibril menjawab, "Wahai Rosul, air itu adalah air tangis umatmu karena takut kepada Allah dalam kesendirian, tuhanku telah menitahkan padaku untuk mengambil dan menjaganya sampai di perlikan oleh mu untuk memadamkan bara api yang memburu umatmu." Disarikan dari: Durrotun-Nashihin, hal 241.

"Ketika Harun ar-Rasyid Ngaji ke Imam Malik"

"Ketika Harun ar-Rasyid Ngaji ke Imam Malik" Khalifah Harun ar-Rasyid termasuk pemimpin yang sangat dihormati rakyatnya. Tentu wibawa ini tak dicapainya secara gratis. Prestasi dalam pembangunan ekonomi, politik, budaya, dan pengetahuan tergolong gemilang. Puncak kekuasaan dan kharisma kepribadiannya membuat setiap perintah sang khalifah dipatuhi semua orang. Hanya orang-orang khusus yang berani membangkang dari keinginan-keinginannya. Selain Abu Nawas, Imam Malik adalah salah satu orang yang bernyali istimewa ini. Khalifah suatu hari mengutus al-Barmaki menjemput Imam Malik untuk mengajar di istananya. “Ilmu pengetahuan harus didatangi, bukan mendatangi,” jawab Imam Malik atas perintah tersebut. Utusan itu akhirnya pulang ke Iraq dan menyampaikan pesan ini kepada Khalifah. Ketika menunaikan haji, Khalifah sempat berjumpa Imam Malik dan menyuruhnya membacakan kitab karangannya. Imam Malik tetap menolak dan memintanya hadir di majelis pengajiannya. “Bagaimana jika di rumah Anda saja?” bujuk Khalifah. “Rumah saya reyot, tak layak untuk seorang pemimpin besar seperti Baginda,” kata Imam Malik merendah. Pada momen kunjungan Khalifah ke Madinah, pakar hadits ini sekali lagi dijemput untuk membacakan al-Muwaththa’ di istana. Dengan agak berat hati ia lalu memenuhi ajakannya. “Saya berharap Baginda bukan orang pertama yang tidak menghormati ilmu. Sungguh, saya tak bermaksud menolak permintaan Baginda. Saya hanya minta Baginda menghargai ilmu agar Allah menghargai Baginda,” tutur Imam Malik. Khalifah pun akhirnya ikut Imam Malik ke rumah. Khalifah duduk di kursi spesialnya. Ia sempat merasa terganggu dengan banyaknya peserta pengajian, namun Imam Malik berutur, “Jika orang lain tak boleh menyimak kitab ini maka Allah akan menjauhkan rahmat darinya.” Pengajian dimulai. Imam Malik menyuruh muridnya membaca al-Muwaththa’. Sebelum kitab dibaca tiba-tiba keluar dari lisan Imam Malik: “Para pencinta ilmu sangat menghargai ilmu. Tak seorangpun dapat duduk lebih tinggi dari ilmu.” Mendengar sindiran itu, Khalifah pun turun dari kursi dan duduk di lantai bersama peserta yang lain. silakan share, coment, dan like semoga bermanfaat dan menginspirasi serta menjadi renungan bagi sahabat yang lainnya.

"Perlawanan Imam Nawawi kepada Pemerintah"

"Perlawanan Imam Nawawi kepada Pemerintah" Di zaman Yahya bin Syaraf An-Nawawi hidup, atau sekitar abad ke-7 H, sebuah kebijakan kontroversial pernah dikeluarkan oleh rezim kekuasaan. Negara hendak memungut paksa iuran wajib dari rakyat demi jalannya aktivitas pemerintahan. Sebagai ulama yang diikuti banyak orang, Imam Nawawi mendapat panggilan Raja azh-Zahir Berbis, pemimpin saat itu. “Tandatanganilah fatwa ini!” perintah Raja kepada Imam Nawawi dengan nada meremehkan. Imam Nawawi sudah paham, rakyat sedang dicekam kesusahan. Kemiskinan meruyak dan kelaparan di mana-mana. Anehnya, para pejabat dan keluarganya justru hidup mewah, sarat fasilitas, serta gemar berfoya-foya. “Tidak!” tegasnya. “Apa alasannya?” sang raja tampak murka. ”Fatwa ini mendukung kezaliman.” Kemarahan Raja Berbis memuncak. Sambil menoleh ke para pejabat di sekelilingnya, ia berteriak, ”Pecat dia dari semua jabatannya!” Namun, sang raja terpaksa gigit jari karena ulama sederhana penghasil puluhan karya besar itu ternyata tak memiliki jabatan apapun. ”Kenapa Raja tak memberi hukuman mati saja?” usul salah satu pejabat. “Demi Allah, aku sangat segan padanya.” Imam Nawawi termasuk ulama yang berpendirian kuat. Di hadapan penindasan, perlawanannya keras dan berani meski risiko berat akan menghampirinya. Agama memang terlalu suci untuk dijual dengan kepentingan politik, apalagi yang tak berpihak pada rakyat.